Rabu, 15 Desember 2010

Learning Disability, Learning Disorder and Slow learner

Diposkan oleh little cat di 17.51
Reaksi: 
Anak Berkesulitan Belajar Khusus (Learning Disability)
Learning Disability merupakan gangguan yang lebih berhubungan pada aktivitas belajar. Gejala-gejalanya yaitu kesulitan membaca, menulis, mengeja dan berhitung
Berkesulitan Belajar Khusus
Sebagaimana diketahui, disability dihubungkan dengan berkurangnya suatu fungsi atau tidak adanya bagian tubuh atau organ tubuh tertentu. Kurangnya fungsi suatu organ untuk belajar disebut learning disability. Learning disability juga diartikan sebagai kelainan dalam satu atau lebih proses psychologis dasar termasuk dalam pengertian dan penggunaan bahasa, bicara, atau menulis yang mana ditunjukkan oleh diri anak dengan tidak baiknya kemampuan untuk mendengar, berfikir, bicara, membaca, menulis, mengeja atau mengerjakan penjumlahan matematik.
Anak learning disability memiliki dimensi kelainan dalam:
• Ketidak cocokan antara apa yang seharusnya anak bisa dengan apa yang secara kenyataan dikerjakan.
• Perwujudan dari tugas yang dapat dikerjakan, anak learning disability tidak dapat melakukannya.
• Fokos terhadap satu atau beberapa proses psychologis dasar termasuk di dalamnya menggunakan atau mengerti bahasa.
• Keterpaduan mata dan telinga meskipun tidak ada kelainan atau terbelakang tetapi anak tidak mau belajar.
Adapula pengertian lain mengenai Anak yang mengalami kesulitan belajar yaitu anak yang memiliki ganguan satu atau lebih dari proses dasar yang mencakup pemahaman penggunaan bahasa lisan atau tulisan, gangguan tersebut mungkin menampakkan diri dalam bentuk kemampuan yang tidak sempurna dalam mendengarkan, berpikir, berbicara, membaca, menulis, mengeja atau menghitung.
Batasan tersebut meliputi kondisi-kondisi seperti gangguan perceptual, luka pada otak, diseleksia dan afasia perkembangan. Dalam kegiatan pembelajaran di sekolah, kita dihadapkan dengan sejumlah karakterisktik siswa yang beraneka ragam. Ada siswa yang dapat menempuh kegiatan belajarnya dengan lancar dan berhasil tanpa mengalami kesulitan, namun di sisi lain tidak sedikit pula siswa yang justru dalam belajarnya mengalami berbagai kesulitan.
Kesulitan belajar siswa ditunjukkan oleh hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar, dan dapat bersifat psikologis, sosiologis, maupun fisiologis, sehingga pada akhirnya dapat menyebabkan prestasi belajar yang dicapainya berada di bawah semestinya.

Kesulitan belajar siswa mencakup pengertian yang luas, diantaranya : (a) learning disorder; (b) learning disfunction; (c) underachiever; (d) slow learner, dan (e) learning diasbilities. Di bawah ini akan dijelaskan dari masing-masing pengertian tersebut.
1. Learning Disorder atau kekacauan belajar adalah keadaan dimana proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan. Pada dasarnya, yang mengalami kekacauan belajar, potensi dasarnya tidak dirugikan, akan tetapi belajarnya terganggu atau terhambat oleh adanya respons-respons yang bertentangan, sehingga hasil belajar yang dicapainya lebih rendah dari potensi yang dimilikinya. Contoh : siswa yang sudah terbiasa dengan olah raga keras seperti karate, tinju dan sejenisnya, mungkin akan mengalami kesulitan dalam belajar menari yang menuntut gerakan lemah-gemulai.
2. Learning Disfunction merupakan gejala dimana proses belajar yang dilakukan siswa tidak berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnya siswa tersebut tidak menunjukkan adanya subnormalitas mental, gangguan alat dria, atau gangguan psikologis lainnya. Contoh : siswa yang memiliki postur tubuh yang tinggi atletis dan sangat cocok menjadi atlet bola volley, namun karena tidak pernah dilatih bermain bola volley, maka dia tidak dapat menguasai permainan volley dengan baik.
3. Under Achiever mengacu kepada siswa yang sesungguhnya memiliki tingkat potensi intelektual yang tergolong di atas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah. Contoh : siswa yang telah dites kecerdasannya dan menunjukkan tingkat kecerdasan tergolong sangat unggul (IQ = 130 – 140), namun prestasi belajarnya biasa-biasa saja atau malah sangat rendah.
4. Slow Learner atau lambat belajar adalah siswa yang lambat dalam proses belajar, sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan sekelompok siswa lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama.
5. Learning Disabilities atau ketidakmampuan belajar mengacu pada gejala dimana siswa tidak mampu belajar atau menghindari belajar, sehingga hasil belajar di bawah potensi intelektualnya.
Learning Disabilities atau ketidakmampuan belajar biasanya mengacu pada gejala dimana siswa tidak mampu belajar atau menghindari belajar, sehingga hasil belajar di bawah potensi intelektualnya.

LEARNING DISORDER

Learning Disorder atau kekacauan belajar adalah keadaan dimana proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan. Pada dasarnya, yang mengalami kekacauan belajar, potensi dasarnya tidak dirugikan, akan tetapi belajarnya terganggu atau terhambat oleh adanya respons-respons yang bertentangan, sehingga hasil belajar yang dicapainya lebih rendah dari potensi yang dimilikinya. Contoh : siswa yang sudah terbiasa dengan olah raga keras seperti karate, tinju dan sejenisnya, mungkin akan mengalami kesulitan dalam belajar menari yang menuntut gerakan lemah-gemulai. Ada 3 Jenis Gangguan dalam LD:
• Reading Disorder
• Mathematic Disorder
• Writing Disorder

READING DISORDER

Menurut DSM IV-TR:

a. Prestasi membaca yang diukur dengan tes
• ketepatan dan pemahaman membaca individu yang
• terstandarisasi, hasilnya berada di bawah harapan
• usia kronologis, dengan pengukuran inteligensi, dan
• usia pendidikannya.

b. Gangguan pada kriteria A secara signifikan dapat
• mengganggu prestasi akademik dan

c. Jika muncul keterbatasan (deficit) pada sensori,
• kesulitan membaca secara terus-menerus
• berhubungan dengan hal tersebut.
Pada anak yang mengalami learning disorder, Ada Masalah pada syaraf otak yang mengurus penglihatan, bahasa dan memori, Kesulitan dalam memhami dan membedakan bunyi (phonological skill), Yang dilihat : ketepatan, kecepatan & pemahaman dalam membaca, Kesalahan : d b (huruf yang terbalik), was menjadi saw (kata yang terbalik), dan place mebjadi palace (penghilangan huruf dalam kata).

MATHEMATICS DISORDER

Menurut DSM-IV TR:

• Kemampuan berhitung (matematika), yang diukur dengan tes individu yang terstandarisasi, hasilnya berada di bawah harapan usia kronologis, dengan pengukuran inteligensi, dan usia pendidikannya.
• Gangguan pada kriteria A secara signifikan dapat mengganggu prestasi akademik dan aktivitas sehari-hari yang memerlukan kemampuan berhitung (matematika).
• Jika muncul keterbatasan (deficit) pada sensori, kesulitan dalam menghitung (matematika) secara terus-menerus berhubungan dengan hal tersebut.

Adanya Dyscalculia, yaitu Kesulitan dalam memahami konsep abstrak dalam operasi hitung & pemecahan masalah serta Kesulitan dalam memahami angka dan symbol namun Tidak ada masalah dengan IQ, fungsi sensori, perkembangan & emosi serta Kesulitan dengan visual-spatial yang Berhubungan dengan syaraf otak.

WRITING DISORDER

Menurut DSM-IV TR:

• Kemampuan menulis berdasarkan pengukuran tes individu yang terstandarisasi (atau pengukuran fungsi kemampuan menulis), dimana hasilnya di bawah harapan usia kronologis, dengan pengukuran inteligensi, dan usia pendidikannya.
• Gangguan pada kriteria A secara signifikan dapat mengganggu prestasi akademik dan aktivitas sehari-hari yang memerlukan keahlian dalam menulis kata-kata (misalnya menulis kalimat yang benar dan paragraph yang teratur.
• Jika muncul keterbatasan (deficit) pada sensori, kesulitan dalam menghitung (matematika) secara terus-menerus berhubungan dengan hal tersebut.

Adanya Masalah pada visual motor eye-hand coordination yang Biasanya diikuti dengan masalah perencanaan, evaluasi diri dan modfikasi diri.


Slow Learner
Slow learner atau anak lambat belajar adalah mereka yang memiliki prestai belajar rendah (di bawah rata-rata anak pada umumnya) pada salah satu atau seluruh area akademik, tapi mereka ini bukan tergolong anak terbelakang mental. Skor tes IQ mereka menunjukkan skor anatara 70 dan 90 (Cooter & Cooter Jr., 2004; Wiley, 2007). Dengan kondisi seperti demikian, kemampuan belajarnya lebih lambat dibandingkan dengan teman sebayanya.
Adapula pengertian mengenai Slow Learner atau lambat belajar adalah siswa yang lambat dalam proses belajar, sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan sekelompok siswa lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama.
Tidak hanya kemampuan akademiknya yang terbatas tapi juga pada kemampuan-kemampuan lain, dianataranya kemampuan koordinasi (kesulitan menggunakan alat tulis, olahraga, atau mengenakan pakaian). Dari sisi perilaku, mereka cenderung pendiam dan pemalu, dan mereka kesulitan untuk berteman. Anak-anak lambat belajar ini juga cenderung kurang percaya diri. Kemampuan berpikir abstraknya lebih rendah dibandingkan dengan anak pada umumnya. Mereka memiliki rentang perhatian yang pendek.
Anak dengan SL memiliki cirri fisik normal. Tapi saat di sekolah mereka sulit menangkap materi, responnya lambat, dan kosa kata juga kurang, sehingga saat diajak berbicara kurang jelas maksudnya atau sulit nyambung.
Hal – hal yang dapat kita lakukan dalam menghadapi anak slow learner yaitu :
• Isi materi diulang-ulang lebih banyak dibandingkan dengan teman sebayanya.
• Sediakan waktu khusus untuk membimbingnya secara individual.
• Waktu materi pelajaran jangan terlalu panjang dan tugas-tugas atau pekerjaan rumah lebih sedikit dibandingkan dengan teman-temannya.
• Lebih baik menanamkan pemahaman suatu konsep daripada harus mengingat suatu konsep.
• Gunakan peragaan dan petunjuk visual.
• Konsep-konsep atau pengertian-pengertian disajikan secara sederhana.
• Jangan mndorong mereka untuk berkompetisi dengan anak-anak yang memiliki kemampuan yag lebih tinggi.
• Pemberian tugas-tugas harus terstruktur dan kongkrit.
• Gunakan berbagai pendekatan dan motivasi belajar.
• Berikan kesempatan kepada anak untuk bereksperimen dan praktek langsung tentang berbagai konsep dengan menggunakan bahan-bahan kongkrit atau dalam situasi simulasi.
• Untuk mengantarkan pengajaran materi baru maka kaitkan materi tersebut dengan materi yang telah dipahaminya.
• Instruksi yang sederhana memudahkan anak untuk memahami dan mengikuti instruksi tersebut. Pada saat memberikan arahan harus berhadapan.
• Berikan dorongan kepada orangtua untuk terlibat dalam pendidikan anaknya di sekolah. Membimbing mengerjakan PR, menghadiri pertemuan-pertemuan di sekolah, berkomunkasi dengan guru, dll.



Daftar Pustaka

http://www.ditplb.or.id/profile.php?id=64
http://www.psikologizone.com/kenali-kesulitan-belajar-anak-sejak-dini
ocw.usu.ac.id/course/.../psikologi_abnormal_a_slide_learning_disorder.pdf
http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/25/kesulitan-dan-bimbingan-belajar/
http://iimimandala.blogspot.com/2008/12/slow-learner_24.html

0 komentar:

 

just read it Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | web hosting